S’mua Baik
Bermula dari menyiapkan teks lagu ini untuk KEP. Sebenarnya sih udah sering denger lagunya di mp3, tapi belum pernah bener2 nyoba untuk ngikutin liriknya. Jadi langsunglah saya ngambil jalan pintas, ke mbah Google (bukan mbah dukun yee hahaha). Dan website inilah yang pertama muncul di permukaan..
Kisah Nyata Di Balik Lagu “S’mua Baik” (In Memoriam: Budi Haryanto)
Dari yang awalnya cuma ingin tau liriknya, saya jadi penasaran ttg cerita di balik itu. Tak disangka, lagu ini sudah diterjemahkan ke bahasa Jepang dan Inggris (dengan judul Zenbu Ii dan All is Good). Ini gak main2, oleh penulis artikelnya lagu ini disejajarkan dengan lagu Amazing Grace.
Optimis Dan Positif
George Dantzing, seorang mahasiswa suatu kali datang terlambat mengikuti perkuliahan. Saat George masuk kelas, yang dia lakukan adalah mencatat 2 soal matematika untuk dikerjakan di rumah. Saat tugas tersebut harus dikumpulkan, maka dari seluruh mahasiswa hanya George yang bisa mengerjakan soal tersebut. George sendiri juga heran, mengapa hanya dia seorang yang mampu mengerjakan soal tersebut. Ternyata, sebelum memberikan 2 soal matematika tersebut, sang profesor berkata kepada seisi kelas bahwa soal tersebut sangatlah sulit untuk dikerjakan, bahkan belum pernah ada ahli matematika yang mampu menyelesaikan soal tersebut. Ini membuat mereka menjadi pesimis apakah mereka mampu mengerjakan soal tersebut. Sementara, waktu itu George datang terlambat sehingga ia tidak mendengar pernyataan tentang betapa sulitnya soal tersebut. Jadi, George pun tetap berpikir optimis bahwa tidak ada soal yang tidak dapat dikerjakan.
Kisah tersebut membuktikan bahwa betapa besar kekuatan pikiran positif untuk kesuksesan kita, demikian juga halnya betapa besar kekuatan pikiran negatif untuk membuat kita pesimis dan menghambat keberhasilan kita. Oleh karena itu, jika kita ingin meraih keberhasilan maksimal dalam hidup kita, tidak ada pilihan lain kecuali kita mengembangkan pikiran positif dan sikap yang optimis.
Di saat kita optimis dan berpikir positif, tiba-tiba pikiran kita menjadi kreatif dan mencari cara untuk mewujudkannya. Sebaliknya di saat kita pesimis dan berpikir negatif, tiba-tiba pikiran kita buntu dan mati gaya sehingga akhirnya kita menyerah. Itu sebabnya jika kita mempelajari Firman Tuhan, kita akan selalu merasakan sikap optimis dan positif.
Seseorang dibatasi oleh pikiran-pikiran yang ia pilih sendiri. Kembangkan sikap optimis dan positif.
” Jawab Yesus : “Katamu: Jika Engkau dapat? Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”
( Matius 25 : 26 )
Tuhan Yesus Memberkati..
Fr : Spirit Motivator November 2009
Does God Exist?
Footnote:
Einstein bukan penganut Judaisme, atau Kristen. Namun ia percaya akan Tuhan. Ia lebih tepat dikatakan penganut aliran Agnostic.
In 1929, Einstein told Rabbi Herbert S. Goldstein “I believe in Spinoza’s God, who reveals Himself in the lawful harmony of the world, not in a God Who concerns Himself with the fate and the doings of mankind.”
Three Question of Faith: Three Questions
[Tulisan ini sebaiknya dibaca sesuai urutan, dimulai dari 1. Rendevouz, dan seterusnya ... ]
Baris demi baris aku mulai membaca tulisan Pius. Tanpa sadar aku turut terbawa dan ikut merasakan kesedihan Pius. Berikut ini sumbangan artikel dari Pius …
—————————————————————————
“KENAPA …. Kenapa aku dilahirkan?”
Aku berteriak lantang dalam hati. Amarah meledak-ledak, berkecamuk dalam hatiku. Dalam kondisi kalut, aku terus berlari meninggalkan rumahku ….
“Kenapa aku harus hidup? Jika hanya untuk menderita seperti ini …”
Aku menyeka mataku yang basah. Lagi-lagi aku bertengkar hebat dengan ayahku … Tapi hari ini adalah puncak segalanya …
Aku berasal dari keluarga berantakan. Ayahku pengangguran, pemabuk dan suka main perempuan. Kalau ada uang ia selalu menghilang entah kemana. Kalau tidak ada uang, ia pulang dan hanya membawa cercaan dan makian untukku.
Ibuku yang menopang ekonomi keluarga, dengan berdagang dan membuka warung kecil didekat sekolah. Ketika ibu pulang, ia lelah dan tak memiliki tenaga untuk melawan ayah bahkan untuk membelaku. Ia hanya bisa menangis melihat kami berdua selalu bertengkar. Aku menyalahkan ibuku atas kelemahannya, atas ketidakmampuannya membelaku dihadapan ayah.
Pagi itu ayah mengamuk lagi … Hanya menunggu beberapa menit, sampai amarahnya ditujukan padaku. Namun entah mengapa hari itu semuanya berbeda. Kesabaranku habis, aku naik pitam … Aku melawannya dengan emosi tak terbendung lagi. Puncaknya aku ambil sebilah kayu dan aku hantamkan kayu itu ke kepala ayah. Darah mengalir dari pelipis matanya. Ia jatuh terlentang …
Ayahku tergeletak tak berdaya, Ibuku berteriak histeris dan menghampiri ayahku … Iya terus menerus menangis …
Aku sendiri tak percaya dengan apa yang kulakukan … Aku membuang kayu itu dan berlari keluar rumah dengan hati galau tak menentu … Aku tak dapat berpikir apa-apa lagi. Yang kutau, aku harus segera pergi sejauh-jauhnya dari rumah laknat itu.
Aku berlari-lari, dengan hati gelap … Tidak tahu harus kemana dan bagaimana …
Read more »
Three Question of Faith: Rendesvouz
[Tulisan ini sebaiknya dibaca sesuai urutan, dimulai dari 1. Rendevouz, dan seterusnya ... ]
Kali ini, Pius tiba lebih dulu …
Dari jauh aku dapat melihat sosoknya. Masih berpenampilan apik, mengenakan batik berwarna kuning dengan rambut tersisir rapi. Ia duduk disofa, sambil membaca sebuah buku.
Aku mempercepat langkah, menuju Starbucks Plaza Indonesia …
Seolah memiliki indra keenam, Pius mengalihkan pandang dari bukunya langsung menatapku, tepat ketika aku sampai dan berdiri tidak jauh dari tempat ia duduk. Aku mengangkat tangan, memberi salam dan menunjuk kearah counter, menandakan bahwa aku hendak memesan minuman dulu. Pius tersenyum dan menyilakan dengan lambaian tangan, kemudian melanjutkan membaca …
Setelah cukup lama mengantri, tiba giliranku untuk memesan. Setelah membayar, aku menuju ke serving table untuk mengambil Ice Caramel Machiato pesananku.
“Baca buku apa Yus?”, tanyaku sambil duduk dan meletakan minuman diatas meja.
Pius menjawab, “Da Vinci Code, Ben.” Ia menutup buku dan meletakannya di atas meja.
Aku melihat buku itu sekilas. “Lho emangnya orang Kristen boleh baca buku itu?”, tanyaku sedikit heran. Setahuku beberapa teman Kristen dilarang membaca buku, bahkan menonton film Da Vinci Code oleh pendetanya. Aneh juga melihat Pius yang mengaku sebagai Hamba Tuhan dan telah lulus sekolah teologi membaca buku ‘bidah’ yang dihujat oleh banyak orang Kristen.
“Ya memang banyak pendeta menyarankan untuk tidak baca buku ini.”, kata Pius. “Hehehe … Tapi aku nggak segitunya lagi Ben. Iman yang tidak diuji, itu nggak kuat pondasinya. Buku ini ujian iman. Dan harus diakui buku ini bagus dan seru. Gak ada salahnya orang Kristen baca, untuk menguji pengetahuan dan iman kristianinya. Ia harus berani bertanya dan mencari jawaban atas semua hal yang membuat dia bingung. Harus kritis juga dong sebagai Kristen.“ Pius tertawa sambil menyedot Tazo Tea yang ia pesan.
Read more »
Hati Seluas Telaga

Dikutip dari Cerita Kristen.com
Suatu hari seorang pemuda yang gusar datang menghampiri seorang kakek yang bijaksana di rumahnya. Pemuda itu kemudian mengeluarkan semua amarahnya dihadapan sang kakek, tentang kepahitan yang ia alami dalam hidupnya. Sang kakek pun hanya diam saja mendengarkannya. Setelah si pemuda selesai dengan amarahnya, giliran sang kakek yang berbicara, “Anak muda, coba engkau ambil segelas air”. “Untuk apa Kek?” jawab si pemuda keheranan, “Lakukan saja!” lanjut sang kakek.
Maka pemuda itu segera masuk ke dalam rumah, dan keluar sambil membawa segelas air. Kemudian sang kakek memasukkan segenggam serbuk pahit ke dalam air tersebut dan menyuruh pemuda tadi meminumnya. Ketika pemuda tersebut meminumnya, ia langsung yang memuntahkan air tersebut dari mulutnya, “Wuah! Pahit sekali Kek!” teriak pemuda itu.
Kemudian sang kakek membawa pemuda itu ke sebuah tempat, dimana disitu terletak sebuah telaga yang cukup luas. Sesampainya di telaga itu, sang kakek mengulang kembali tindakannya yang tadi, ia pun memasukkan segenggam serbuk pahit itu ke dalam telaga dan kemudian menyuruh pemuda tersebut meminum air telaga itu.
Setelah selesai meminumnya, sang kakek bertanya padanya, “Sekarang bagaimana, apakah rasanya pahit?” Pemuda itu menggelengkan kepalanya. ” Anak muda!” ujar sang kakek, “Kepahitan yang kamu alami itu seumpama segenggam serbuk pahit tadi, sedangkan hatimu bagaikan segelas air dan telaga ini. Kepahitan itu ukurannya sama tetapi ketika engkau menempatkannya pada hatimu yang hanya seukuran air segelas, maka engkau akan merasa pahit, tetapi ketika engkau taruhkan di hatimu yang seluas telaga, maka engkau tidak akan merasa apa-apa. Sekarang tergantung padamu, mau dimana engkau tempatkan kepahitan hidupmu, apakah di hatimu yang sempit atau di hatimu yang yang luas?”
Mendengar ucapan sang kakek, pemuda itu segera menyadari kesalahan, bahwa ia begitu cepat marah.
Saudara/i, ketika Anda mengalami kekecewaan, hanya pada hati yang seluas telagalah yang bisa membut Anda tidak merasa pahit. Dan hanya Yesuslah yang mampu menjadikan hati Anda seluas telaga.
Milikilah hati yang lapang, maka Anda akan cukup menampung semua kepahitan hidupmu tanpa ada rasa pahit
Sumber: Jawaban.com ( via Kingdom Magazine)
Team Hoyt
Team Hoyt is a father (Dick Hoyt, b. ca. 1940) and son (Rick Hoyt, born January 10, 1962) from Massachusetts who compete together in marathons, triathlons, and other athletic endeavors. Rick has cerebral palsy, caused by loss of oxygen to his brain at birth because his umbilical cord was wrapped around his neck.
Dick pulls his son Rick in a special boat as they swim, carries him in a special seat up front as they bike, and pushes him in a special wheelchair as they run.
Doctors told his parents that Rick would live in a vegatative state, but his parents, with the help of Tufts University engineers, recognized that his sense of humor indicated intelligence. At the age of 12, Rick was able to learn how to use a special computer to communicate using movements from his head. The first words he typed were, “Go Bruins!”, and the family learned he was a sports fan. They entered their first race in 1977, a 5 mile benefit run for an injured lacrosse player who was a schoolmate of Rick’s.
Dick is a retired Lieutenant Colonel in the Air National Guard. Rick earned a college degree from Boston University in special education, and now works at Boston College. They continue to compete in races, and are also motivational speakers.
As of August 31, 2008, Team Hoyt had participated in a total of 984 events, including 229 Triathlons (6 of which were Ironman competitions), 20 Duathlons, and 66 Marathons, including 26 Boston Marathons.[1] They have also biked and run across the USA, in 1992 — a 3,735 mile journey that took them 45 days.
When asked what one thing Rick wished he could give his father, his reply was “The thing I’d most like is that my dad would sit in the chair and I would push him once.”
Kilas Balik KEP XVI St. Andreas
Akhirnya datang juga!
GicMaficionado Production mempersembahkan:
“Kilas Balik KEP XVI St. Andreas”
Yupz, di sini kita bisa liat suka dukanya kisah perjalanan KEP XVI paroki Andreas, dari yang masih celingak celinguk belum kenal siapa2 sampai yang ngobrol2 gak kenal waktu, dari yang bingung ini sebenernya acara apa sih sampai yang kangen kalo gak dateng KEP sehari aja, dari yang gak tau ini lagu apa yang dinyanyiin sampai yang hafal luar kepala pakai gerakan pula, dari yang panik begitu tau di akhir KEP ada ujian sampai yang pasrah yo wiss kalo ujiannya gak bisa jg.. tapi mengingat kembali kebersamaan kita dulu, rasanya ada yang hilang begitu KEP itu selesai.
“Life gives us brief moments with another…but sometimes, in those brief moment we get memories that last a life time…”
Sejarah Gereja Katolik di Indonesia